TEMA 8 SUBTEMA 1 PEMBELAJARAN 1

 

TEMA 8. DAERAH TEMPAT TINGGALKU

SUBTEMA 1. LINGKUNGAN TEMPAT TINGGALKU

PEMBELAJARAN 1.

Bahasa Indonesia KD 3.9 dan 4.9

CERITA FIKSI

Cerita fiksi merupakan  cerita rekaan atau khayalan dari pengarang. Isi cerita berupa khayalan yang tidak nyata. Isi cerita juga dapat berupa fakta yang dialami atau dilihat pengarang, lalu disajikan dengan imajinasi pengarang. Cerita fiksi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1.        Cerita bersifat rekaan atau khayalan.

2.      Cerita disajikan dalam urutan waktu. Peristiwa dalam cerita disjaikan dari awal sampai akhir.

3.      Cerita bertujuan menghibur dengan menceritakan suatu peristiwa.

4.      Peristiwa-peristiwa dalam cerita dirangkai dalam sebuah alur cerita.

5.      Cerita menggunakan bahasa komunikatif atau mudah dipahami pembaca.

Salah satu contoh cerita fiksi adalah cerita “Terjadinya Kota Cianjur”. Kota Cianjur adalah salah satu daerah di Jawa Barat. Kabupaten Cianjur terbagi atas tiga puluh kecamatan. Sebelah utara Kabupaten Cianjur berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta. Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia. Di sebelah timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Bacalah cerita berikut dengan cermat!

Terjadinya Kota Cianjur

Pada zaman dahulu di daerah Jawa Barat ada seorang lelaki kaya raya. Seluruh sawah dan ladang di desanya menjadi miliknya. Penduduk desa hanya menjadi buruh tani penggarap sawah dan ladangnya. Orang kaya itu dijuluki Pak Kikir oleh penduduk desa karena dia sangat pelit. Untunglah sifat kikir itu tidak menular kepada anak satu-satunya. Anak Pak Kikir berwatak baik. Dia sering membantu tetangganya yang kesusahan.

Di desa tersebut ada kepercayaan jika menginginkan hasil panen yang baik dan melimpah, harus mengadakan pesta syukuran. Kepercayaan itu sangat diyakini Pak Kikir. Namun, Pak Kikir hanya menyediakan hidangan ala kadarnya dan banyak di antara undangan tidak mendapatkan makanan. Mereka hanya mengelus dada atas sikap Pak Kikir.

Ketika pesta tersebut berlangsung, datanglah seorang nenek tua renta yang meminta makanan kepada Pak Kikir. Namun, Pak Kikir tidak memberi apa pun kepada nenek itu. Pak Kikir justru membentak dengan kata-kata kasar dan mengusir nenek tua itu.

Nenek itu menangis. Dia segera meninggalkan rumah Pak Kikir dengan hati sedih. Melihat kejadian itu putra Pak Kikir sangat sedih. Dia diam-diam mengambil jatah makan siangnya, lalu memberikan makanan kepada si nenek. Nenek itu merasa sangat senang dan berterima kasih.

Setelah anak Pak Kikir pergi, nenek melanjutkan perjalanannya. Sampailah dia di sebuah bukit dekat desa, dia berhenti sejenak. Dilihatnya rumah Pak Kikir paling besar dan megah di des aitu. Sementara itu, penduudk di sekelilingnya menderita karena ketamakan Pak Kikir. Melihat perbuatan Pak Kikir itu, si nenek sangat marah dan berkata, “Ingat-ingatlah Pak Kikir, bahwa keserakahan dan kekikiranmu akan menenggelamkan dirimu sendiri. Tuhan akan menimpakan hukuman kepadamu.’

Nenek itu menancapkan tongkatnya di tanah, lalu dicabutnya lagi. Dari lubang tancapan itu memancar air yang sangat deras. Makin lama pancaran air itu makin besar dan alirannya ke desa. Orang-orang desa mulai panik melihat datangnya air bah dari bukit itu. Anak Pak Kikir menganjurkan penduduk desa segera meninggalkan desa dan lari ke atas bukit itu. Anak Pak Kikir juga membujuk ayahnya menyelamatkan diri, tetapi Pak Kikir sibuk menyelamatkan hartanya. Karena tidak ada waktu, anak Pak Kikir segera berlari menyelamatkan diri. Sementara itu, Pak Kikir terus mengumpulkan harta bendanya dan tenggelam terseret air bah.

Sebagian penduduk desa dan putra Pak Kikir selamat. Mereka sedih melihat desanya tenggelam. Kemudian, mereka memutuskan untuk mencari daerah baru. Mereka mengangkat anak Pak Kikir sebagai pemimpin desa mereka yang baru. Putra Pak Kikir lalu menganjurkan penduduk untuk mengolah tanah yang telah dibagi rata, Pemimpin desa baru itu mengajari penduduk menanam padi dan mengairi sawah dengan baik. Desa itu kemudian disebut Desa Anjuran. Penduduk desa selalu mematuhi anjuran pemimpinnya. Desa itu berkembang menjadi kota kecil disebut Cianjur. Ci berarti air. Cianjur berarti daerah yang cukup mengandung air. Anjuran pemimpin desa dijadikan pedoman petani dalam mengolah sawah. Oleh karena itu, sampai sekarang ini beras Cianjur dikenal sangat enak dan gurih.

Setelah kamu memahami cerita tersebut, jawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

1.        Siapa tokoh yang terdapat dalam cerita tersebut?

2.      Apa yang dilakukan putra Pak Kikir melihat perlakuan ayahnya kepada Nenek Tua?

3.      Mengapa Nenek Tua marah kepada Pak Kikir?

4.      Bagaimana putra Pak Kikir memimpin desa yang baru?

5.      Bagaimana sifat tokoh-tokoh dalam cerita tersebut?

 

IPA KD 3.4 dan 4.4

GAYA DAN GERAK DI LINGKUNGAN SEKITARKU

Gaya adalah dorongan atau tarikan yang dapat memengaruhi keadaan suatu benda. Perubahan keadaan benda setelah diberi gaya, yaitu perubahan gerak, arah, dan bentuk dari benda.

Gerak adalah perpindahan kedudukan suatu benda dari tempat asal atau benda acuan karena dikenai gaya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP HARIAN PAUD TK TEMA TUBUHKU

TEMA 9 SUBTEMA 3 PEMBELAJARAN 1