TEMA 8 SUBTEMA 1 PEMBELAJARAN 6

 Bacaan berikut untuk soal nomor 1-3.

Legenda Batu Kuwung

Cerita rakyat Batu Kuwung berawal dari kisah hidup seorang saudagar kaya (Seorang Kepala Desa) namun kikir yang hidup di masa Sultan Haji (sekitar tahun 1683-1687 M). Sifat tamak dan kikir saudagar ini sangat terkenal ke seantero negeri.

Kabar tersebut sampai juga ke telinga seorang yang sakti. Orang sakti itu pun kemudian memutuskan untuk menyamar menjadi seorang pengemis pincang. Dia mencoba memohon bantuan pada saudagar. Namun ternyata saudagar malah mengusir si pengemis pincang itu dengan kasar.

Si pengemis merasa sangat tersinggung dan tidak terima dengan perlakuan yang diberikan saudagar. Kemudian si pengemis pun mengutuk, ia berkata bahwa saudagar akan merasakan rasa lapar dan menderita sama seperti apa yang dirasakan pengemis tadi.

Benar saja, ketika keesokan harinya, saudagar bangun dari tidurnya dengan kondisi kaki lumpuh. Karena merasa banyak harta akhirnya dia membuat pengumuman dan mengundang banyak tabib untuk mengobati penyakitnya. Namun tak satupun tabib yang mampu menyembuhkannya.

Di tengah keputusasaan datanglah si pengemis pincang kepadanya. Ia mengatakan semua ini adalah buah dari sifatnya yang kikir. Saudagar pun tersadar akan kesalahannya dan berucap janji bahwa dia akan memberikan separuh hartanya untuk orang lain yang membutuhkan asalkan bisa sembuh.

Mendengar itu si pengemis pincang berujar agar si saudagar pergi ke kaki Gunung Karang. Kemudian ia harus mencari sebuah batu cekung. Disana ia harus menjalani tapa di atas batu cekung tersebut selama 7 hari.

Dengan dibantu oleh anak buahnya, saudagar itupun pergi. Setelah menemukan tempat yang dimaksud dia pun menjalankan tapanya selama 7 hari. Anehnya, setelah 7 hari, batu tempat saudagar bertapa tersebut mendadak mengeluarkan mata air panas. Kepala desa lalu mandi dengan air itu. Ajaib! Penyakit kepala desa sembuh.

Kepala desa bersyukur kepada Tuhan. Kepala desa pun kembali ke desa dan bersedekah kepada orang miskin. Ia berjanji membuang semua sifat buruknya.

Saat ini batu cekung tempat kepala desa bertapa menjadi salah satu objek wisata di Kecamatan Padarincang, Ciomas, Banten. Tempat itu dikenal dengan nama Batu Kuwung yang artinya batu cekung.

Cerita berikut untuk nomor 4 dan 5.

"Bagaimana, Raja? Apakah Raja masih kuat?" tanya Semut yang bermaksud meledek Tigris dalam pertandingan menatap Matahari itu.

Karena gengsi dan terlanjur sombong, Tigris tidak mau mengakui bahwa sebenarnya dia sudah tidak tahan menatap Matahari.

"Oh, tentu, Semut. Aku adalah raja segala binatang. Kalau hanya menatap Matahari bukan hal sulit buatku."

Usai Tigris mengucapkan itu, matanya justru terasa pegal dan perih. Tigris merasakan pusing di kepala. Tubuhnya sempoyongan. Sekuat tenaga ia berusaha tegak berdiri, tapi tetap terlihat lemah.

Isilah titik-titik berikut dengan jawaban yang benar!

Bahasa Indonesia (1-5). SBdP (6-10)

  1. Tokoh utama cerita tersebut adalah....
  2. Cerita tersebut termasuk cerita....
  3. Tokoh pengemis memiliki sifat....
  4. Tokoh Tigris dalam cerita memiliki sifat....
  5. Cerita Raja Tigris dan Semut termasuk cerita fiksi jenis....
  6. Kecepatan lagu diukur dengan alat pengukur yang disebut....
  7. Tempo sebuah lagu tertulis MM 80. Artinya, dalam satu menit lagu dinyanyikan sebanyak ... ketukan.
  8. Nada dengan tanda titik di bawah angka termasuk kelompok nada....
  9. Tempo MM 104 termasuk tempo....
  10. Nada dengan tanda titik di atas angka merupakan kelompok nada....

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP HARIAN PAUD TK TEMA TUBUHKU

TEMA 9 SUBTEMA 3 PEMBELAJARAN 1